Kaum milenial berpotensi lebih besar untuk mengalaminya.
Aplikasi berkonsep penyedia layanan untuk mendapat pasangan melalui sistem online saat ini menjadi salah satu alternatif pilihan bagi masyarakat kekinian yang memang sudah sangat melek teknologi. Tujuannya tidak lain untuk mempermudah mereka yang kesulitan menemukan pasangan karena kesibukan atau kurang mampu mendekati lawan jenisnya secara langsung.
Melalui aplikasi kencan online ini, tidak hanya dapat mempersingkat waktu, tapi juga para millenials ini bisa mendapat pasangan sesuai kriterianya secara lebih mudah. Namun di balik kemudahan itu, sejumlah penelitian yang dikumpulkan dari rentang tahun tertentu menunjukkan adanya dampak-dampak negatif yang dialami para subjek yang sedang atau pernah melakukan kencan online.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Body Image di tahun 2017 misalnya, mendapati bahwa baik laki-laki atau perempuan yang menggunakan aplikasi kencan online memiliki self-esteem yang lebih rendah, bahkan merasa kurang puas dengan tubuh dan penampilan mereka dibanding mereka yang bukan sebagai pengguna aplikasi.
Hasil penelitian ini diperoleh melalui eksperimen yang dilakukan kepada lebih dari 1000 mahasiswa pengguna aplikasi kencan online. Mereka mulai merasa dibuang dan tidak dianggap dalam interaksi sosial, berkembangnya kewaspadaan dan kritik terhadap penampilan serta tubuh mereka, dan percaya bahwa selalu ada yang lebih baik dari dirinya, bahkan semakin mereka menggunakan aplikasi kencan online, subjek mulai mempertanyakan kelebihan apa yang mereka punya.
Kencan online juga berdampak pada kecanduan, dimana 1 dari 6 subjek yang melakukan survei (15 persen dari keseluruhan subjek) melaporkan adanya rasa kecanduan terhadap proses kencan online. Jika dikelompokkan dalam rentang usia dan jenis kelamin, kelompok usia milenial memiliki tingkat kecanduan 125 persen lebih besar dibanding generasi yang lebih tua.
Sementara dari segi jenis kelamin, laki-laki menunjukkan 97 persen tingkat kecanduan lebih besar dibanding perempuan. Bahkan 54 persen dari subjek perempuan dilaporkan merasa lelah dengan keseluruhan proses kencan online. Lebih jauh, professor psikologi bernama Alejando Lleras menjalankan penelitian yang menghubungkan kecanduan teknologi terhadap kecemasan dan depresi.
Temuannya menyebut bahwa mereka yang kecanduan terhadap teknologi memiliki kemungkinan untuk menderita dampak-dampak yang berkaitan dengan kesehatan mental.